Hari 9 - Takut Mengambil Resiko

Ketakutan untuk menjadi sesuatu telah membuat beberapa orang tidak menjadi apa-apa. (Erick Hoffer)

Para pemimpin besar sering dijuluki sebagai para pengambil resiko dan tak jarang dikatakan gila. King Camp Gillette salah satunya. Pada zamannya tidak ada tukang yang mau menerima proyek dan membuat prototipnya. Para pembuat alat makan yang berpengalaman, pengasah bahkan para pakar di Massachusetts Institute of Technology mengatakan bahwa keinginan Gillette mustahil dilakukan. Tidak seorang pun mampu membuat alat pencukur yang cukup tajam dan memberikan hasil yang sempurna dengan harga cukup murah untuk dibuang bila sudah tumpul. Gillette membutuhkan waktu empat tahun untuk memproduksi pisau cukurnya yang pertama dan empat tahun lagi untuk memasarkannya. Tahun pertama Gillette hanya mampu menjual lima puluh satu set dengan harga $5/ buah. Tahun berikutnya, ia berhasil menjual 90.844 buah. Kini pisau cukur ciptaannya sudah menjadi konsumsi masyarakat di dunia setiap hari.

Bukan saja Gillette yang pernah dikatakan gila, tidak mungkin berhasil dengan impianya, namun Henry Ford dan Wright bersaudara pun pernah mengalaminya. Saat Henry Ford ingin menciptakan mobil, banyak orang mencibir dengan berkata, "Itu tidak akan berhasil karena orang akan tetap senang menggunakan kuda sebagai alat transporasi." Namun Ford tetap maju dan bereksperimen, akhirnya orang-orang pun merasakan dampak baik dari ciptaannya, tidak perlu bersusah-susah atau menghabiskan banyak biaya bila ingin melakukan perjalanan panjang. Wright bersaudara pun sama. Ketika mereka memikirkan cara bagaimana agar manusia bisa terbang, orang di sekelilingnya berkata, "Tidak perlulah menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga untuk membuat pesawat. Biar burung-burung saja yang bisa terbang, manusia tidak usah ikut-ikut terbang." Untunglah mereka tidak mendengarkan cemoohan itu. Karena jika tidak, mungkin sampai hari ini kita tidak bisa menikmati bepergian dengan menggunakan pesawat.

Tuhan telah memberikan potensi dalam hidup kita bukan sekedar untuk mengikuti sejarah, tetapi juga untuk menciptakan sejarah. Tapi terlalu banyak orang yang lebih suka membeo, atau mengikuti sejarah yang ada. Karena tidak mungkin menempuh jarak ribuan meter dengan waktu singkat, ya sudah terima saja kenyataan itu. Kalau memang harus berjalan kaki seumur hidup, itu memang sudah ketentuan alam. Memang mencukur itu harus dikerjakan dengan alat yang sama, bila tumpul ya tinggal di asah saja. Lihatlah, itulah cara pandang kebanyakan orang, tidak mau bersusah-susah, tidak mau berpikir panjang, tidak mau membuat terobosan, tidak memiliki inisiatif untuk berubah, takut mengambil risiko. Bila kita senantisa mengambil langkah tersebut, lalu kapan kita akan meraih kehidupan yang lebih baik? Bagaimana kita bisa menjadi story maker?

Di tahun yang baru ini, buatlah satu komitmen baru yaitu mau bertindak lebih berani untuk mengambil setiap resiko dalam pekerjaan kita dan tidak tinggal diam dengan keadaan yang tidak nyaman di sekitar kita. Seandainya Gillette, Ford, dan Wright bersaudara tidak melakukan apa-apa terhadap keadaan yang menimpa mereka saat itu, maka dunia akan tetap sama. Tidak ada pisau cukur yang bisa dipakai sekali lalu dibuang, tidak ada mobil, tidak ada pesawat. Kita pun tidak akan meraih apa pun jika hanya menerima kondisi kita sebagai nasib, sebagai hal yang tidak bisa diubah lagi. Jangan menganggap pendapatan kecil yang terus-menerus kita dapat setiap tahun sebagai hal yang wajar. Memang kita perlu bersyukur atas segala hal. Tapi bukan berarti kita harus tinggal selamanya di tempat yang sama. Kita mampu mendapatkan yang lebih dari yang kita peroleh saat ini, jika kita berani membuat terobosan. Tidak perlu memikirkan hal yang sulit-sulit, kita bisa memulainya dari sikap kita, mungkin dulu tanpa kita sadari kita terlalu asuh dengan pelanggan, hasil penjualan kita pun jadi tidak memuaskan. Atau mungkin sebelumnya kita tidak berani mengambil proyek yang ditawarkan atasan karena menuntut risiko yang tidak kecil. Mulailah menjadi orang yang lebih terbuka dengan kesempatan yang ada. Begitu ada satu pintu terbuka, masuklah. Begitu ada peluang yang menghampiri ambillah. Kalau kita terlalu memusingkan untung–ruginya, bagaimana menjalankannya, bagaimana jika gagal, bagaimana bila orang lain iri, bagaimana jika tidak bisa mencapai target, dsb, maka selamanya kita tidak akan memulai, dan tidak pernah menghasilkan apa pun juga.

Bukan berarti kita bertindak dengan membabi-buta, tidak mempertimbangkan segala sesuatunya namun hendaknya kita mengerti bahwa tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung risiko. Masalahnya apakah kita mau mencoba, mau membuat perubahan, mau menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, atau tidak? Ingatlah dibutuhkan keberanian yang besar untuk terus maju dan melakukan apa yang dinggap benar walaupun para pengkritik berada di sekitarnya.