Hari 8 - Tantangan dan Harganya

Seberapa besar pengorbanan Anda untuk mendapatakan sesuatu menentukan besarnya nilai hal yang Anda kejar. (Henry David Thoreau)

Seorang turis sedang berjalan-jalan di pasar tradisional orang-orang Indian. Para pedagang di sana menjajakan berbagai macam cindera mata. Di antaranya terdapat kalung-kalung dengan bandul gigi buaya, gigi harimau, gigi ikan hiu dan juga kuku beruang. Si turis bertanya, "Apakah bandul-bandul kalung itu sangat bernilai bagi orang-orang Indian?" Pedagang itu menjawab, "Oh tentu, bahkan jauh lebih bernilai daripada mutiara." Sang turis terheran-heran, padahal mutiara jauh lebih indah dan berharga di negaranya. Kemudian ia bertanya lagi, "Mengapa gigi-gigi itu lebih bernilai? Apa keistimewaannya?" "Banyak orang bisa membuka tiram dan mengambil mutiaranya, sebaliknya hanya orang yang berani menghadapi tantangan saja yang dapat mengambil gigi-gigi dan kuku binatang tersebut. Itulah yang membuat benda-benda ini memiliki nilai yang sangat tinggi!" Jawab si pedagang.

Masih ingat dengan acara TV yang berjudul Fear Factor? Dalam acara tersebut, semakin nilai uang yang ditawarkan tinggi, maka semakin besar pula tantangan yang harus dijalankan oleh pesertanya. Itulah hidup bahwa apa yang Anda dapatkan berbanding lurus dengan usaha yang telah Anda keluarkan. "Ada label harga yang menempel pada setiap keberhasilan, yang selalu menjadi pertanyaan adalah maukah Anda membayar harga tersebut melalui kerja keras, pengorbanan, kesabaran, iman, dan ketabahan?" demikian ujar John C. Maxwell. Ya segala sesuatu ada harganya. Sayang, tidak banyak orang yang mengerti prinsip ini. Ingin sukses tapi malas, ingin mendapat banyak tapi menabur sedikit. Ingin bahagia tapi tidak mau berusaha membahagiakan orang lain. Ingin sehat tapi tidak menerapkan gaya hidup sehat. Ingin posisi tinggi, namun berusaha paling sedikit. Ingin hidup enak, tetapi tidak ingin membayar harganya Kira-kira, apakah pribadi yang seperti itu akan meraih mimpi-mimpinya? Pantaskah orang-orang seperti itu, mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang mereka harapkan? Tentu saja tidak.

Saya teringat akan satu kisah humor. Suatu hari seorang pemuda melamar ke suatu perusahaan.
HRD Manager : "Apabila Saudara diterima di perusahaan ini, berapa gaji yang Saudara harapkan?"
Pemuda : "Saya ingin gaji dalam US dollar saja, pak. Tidak usah terlalu tinggi, cukup 10.000 USD saja"
HRD Manager : "Ehm, bagaimana kalau perusahaan menawarkan lebih banyak: kami sediakan mobil Mercedes lengkap dengan supirnya, rumah di Pondok Indah dengan kolam renang, liburan setiap akhir minggu ke Bali, cuti 12 hari setiap akhir tahun ditambah bonus 12 kali gaji?"
Pemuda : "Ah, jangan bercanda, pak!"
HRD Manager : "Lho... kan Saudara duluan yang mengajak bercanda."

Begitulah cerminan masyarakat kita saat ini. Tidak memantaskan dirinya untuk segala sesuatunya. Namun untuk menjadi achiever sejati, suka atau tidak, kita harus membayar keberhasilan kita sesuai dengan harganya. Mengapa? Karena tak ada gunanya seorang berdiri di tempat teduh dan mengeluhkan sinar mentari tidak menerangi dirinya. Di harus keluar dan berada di tengah lapangan yang panas berdebu di mana semuanya berjuang menghadapi segala tantangan dan berusaha keras untuk memenangkannya. Tidak ada gunanya kita mengeluh atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dengan mengatakan, "Mengapa Tuhan tidak adil, orang yang satu dibuat berhasil sementara saya tidak. Orang lain mengalami promosi, namun mengapa saya selalu berada di posisi ini sejak masuk kerja?" Jangan pernah berkata demikian jika kinerja kerja sangat berbeda dengan rekan-rekan yang lain. Mereka menerima semuanya itu mungkin karena mereka memang pantas mererimanya. Mereka bekerja lebih banyak dari kita, lebih rajin, lebih cekatan, lebih peka dengan peluang yang ada, dsb.

Karena itu, bila kita ingin meraih hal-hal besar dalam karir dan kehidupan pribadi kita, mulailah melakukan intropeksi dengan bertanya pada diri sendiri, "Bila setiap hari, cara kerja saya seperti ini, pantaskah saya menerima yang terbaik dari Tuhan dan sesama? Jika saya selalu menunda pekerjaan dan malas, layakkah saya menerima promosi dari pimpinan?" Bila kita belum melakukan yang maksimal dalam pekerjaan kita, maka jangan harap yang terbaik akan datang dalam hidup kita.