Hari 5 - Pikiran Mempengaruhi Tindakan

"Aku bertanggung jawab atas pikiranku, maka aku harus bertanggung jawab atas semua tindakanku." (Dr. Ibrahim Elfiky)

Edgar Rice Buuroughs (1875-1950), seorang kelahiran Chicago, Ilinois, Amerika pernah menulis buku berjudul ‘Tarzan of the Apes’ (1914), kisah tentang petualangan Tarzan. Sebelum menulis cerita tersebut Edgar pernah bekerja sebagai prajurit, buruh tambang emas, gembala sapi, penjaga toko dan polisi. Sampai akhir hayatnya ia menulis sekitar 60 novel fiksi, sekitar 20 diantaranya adalah petualangan Tarzan yang membuatnya populer di seluruh dunia.

Pada cerita petualangan Tarzan ini, Edgar bercerita dengan lancar mengenai hutan, berbagai peristiwa dan keadaan di Afrika. Suatu cerita yang hampir 100% sama dengan keadaan di Afrika yang sebenarnya. Tetapi tahukah Anda bahwa dalam hidupnya Edgar belum pernah sekalipun pergi ke Afrika? Cerita mengenai keadaan di Afrika hanya didengarnya dari teman-teman dan buku-buku yang dibacanya. Edgar sungguh memiliki daya imajinasi yang luar biasa!

Pada dasarnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk berimajinasi, bahkan hal itu dimulai saat kita masih kanak-kanak. Lihatlah anak-anak kita, ketika mereka ditanya bila besar ingin menjadi apa, mereka akan menjawab, "Aku ingin menjadi dokter yang berpakaian serba putih dengan suntikan di tangan. Aku ingin menjadi polisi, mempunyai banyak senjata pistol, borgol, pentungan untuk menangkap penjahat, dsb." Dari mana mereka bisa membayangkan atau mempunyai imajinasi seperti itu? Karena mereka melihat dokter dan polisi dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata mereka melihat apa yang benar, yang luar biasa, yang pantas menjadi teladan. Sayangnya setelah dewasa, pandangan kita berubah. Kita melihat hal-hal yang negatif, pengangguran, teman-teman yang malas, rekan kerja yang bekerja tidak jujur, atasan yang tidak disiplin. Dan secara tidak sadar apa yang kita lihat, dan perhatikan terus-menerus, menjadi hal yang biasa dan lebih parahnya kita ikuti. Maka kehidupan kita pun jadi tidak jauh berbeda dengan orang-orang itu.

Bila kita membaca kisah sukses Edgar Rice Buuroughs, maka kita akan menemukan bahwa Edgar telah memposisikan dirinya dengan tepat. Karena ia ingin menulis kisah petualangan Tarzan, kisah hidup seorang manusia yang tidak jauh dari hutan, binatang-binatang, keadaan alam, maka ia mencoba menggali informasi dari teman-temannya tentang semua hal itu. Bukan sebaliknya mendengar dari rekan-rekannya tentang gosip, politik, masalah ekonomi, atau hal-hal yang bertolak belakang dengan tujuannya. Ia pun membaca buku-buku yang berkaitan dengan hal bersangkutan. Edgar benar-benar selektif dengan apa yang ia baca dan dengan siapa ia menghabiskan waktu. Sebagai achiever, apa yang ingin Anda raih? Keuntungan yang besar, menjadi pemimpin yang berhasil, memiliki nama baik, jabatan yang tinggi, fasilitas yang mewah, kesejahteraan, perusahan yang maju, usaha yang bermultiplikasi, apapun itu, kita perlu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang mendekatkan kita pada pencapaian kita. Zig Ziglar pun menegaskan, "Karena pemikiran Anda secara langsung mempengarui kinerja Anda, hendaknya pemikiran Anda itu didasarkan pasa sumber yang baik." Apakah kita meminta saran kepada orang-orang yang tepat? Berkumpul dengan komunitas yang sehat? Melihat gaya hidup atasan yang positif? Membaca buku yang berkualitas? Bergaul dengan rekan-rekan yang dapat memberi input yang benar, yang mampu menyemangati saat kita jatuh, yang tertawa saat kita berada di puncak sukses, yang bersedia menjadi pendengar yang baik? Jika ya, berarti kita sudah berada pad jalur yang benar, dan kesuksesan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk kita raih. Karena apa yang dilihat mata kita, yang didengar telinga kita, itu yang mempengaruhi hidup kita. Bila kita melihat sikap, karakter, perilaku yang membangun, yang menarik kita ke atas, maka cepat atau lambat kita akan mengikutinya. Begitu pula bila kita sering mendengar kata-kata motivasi, penyemangat, kata-kata yang menguatkan, maka pelan tapi pasti kita akan menjadi pribadi yang unggul.

"Pekerjaan Anda tidak akan pernah lebih besar daripada yang imajinasi Anda buat," ungkap Napoleon Hill. Itu benar, namun untuk dapat memiliki imajinasi yang benar, yang sehat, yang positif, yang dapat membahwa kita pada pencapaian yang besar, kita perlu bergaul dengan orang-orang yang benar, membaca buku-buku yang berkualitas, melihat teladan hidup yang memang layak untuk diikuti. Dan bila kita sudah mengikuti semuanya itu, maka kita pun dapat membayangkan hal-hal yang benar bagi hidup kita sendiri, bahkan menghasilkan suatu tindakan yang mendekatkan kita pada keberhasilan. Jadi, mulai hari ini pupuklah pemikiran-pemikiran kita dengan hal-hal yang mulia, yang sehat, yang layak dipikirkan, karena hasil yang kita peroleh selalu berbanding lurus dengan pemikiran kita.