Hari 20 - Berhenti Mengeluh Belajar Bersyukur

Keberuntungan datang dan mengetuk dengan keras pintu rumah saya dengan salam yang menggembirakan. Tapi sia-sia usaha keberuntungan itu karena saya berada di rumah tetangga, saya sedang menumpahkan cerita tentang kesialan-kesialan saya. (Bruno Hegspiel)

Pollyana adalah seorang gadis yatim yang selalu mengeluh dengan hidupnya. Suatu hari ayahnya mengajarkannya suatu permainan yang disebut 'keberuntungan'. "Ambillah dua tongkat lalu topang tongkat itu di ketiakmu. Lipatkan kedua kakimu dan berkelilinglah sementara engkau bergantung sepenuhnya pada penopang-penopang itu," kata sang ayah. Ia mematuhinya. Setelah beberapa saat si ayah berkata, "Baikah sekarang lepaskan tongkat-tongkat itu, lompatlah dan berjingkraklah sekeliling ruangan sesuka hatimu." Ia menurut. Kemudian ayahnya berkata lagi "Sekarang engkau sadar betapa beruntungnya engkau Pollayana? Engkau memiliki kaki yang kuat dan sehat tanpa memerlukan tongkat penopang itu. Ingatlah hal ini: betapapun hidup itu sulit, buruk, tidak menyenangkan atau menyakitkan, selalu ada sesuatu yang dapat membuat engkau merasa beruntung. Hal ini ibarat seorang anak kecil yang mengeluh tidak memiliki sepatu, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang tidak mempunyai kaki." Lalu Pollyana bekata, "Sungguh saya beruntung, saya memiliki kaki." Ketika ayah Pollyana mendadak meninggal beberapa tahun kemudian, ia menemukan di wajah sang ayah yang seolah-olah mengucapkan, "Sungguh, saya beruntung!"

Ya, selalu ada hal yang baik di tengah ketidakbaikan. Selalu ada hal yang bisa kita syukuri dalam situasi yang buruk sekalipun. Anthony De Mello pernah berkata, "Kita sebenarnya dikelilingi oleh sukacita, kebahagiaan, dan kasih. Namun kebanyakan kita tidak menyadarinya." Kita memang kerap tidak menyadari keberadaan kita, keluarga yang kita miliki, pekerjaan yang kita punya, kesehatan yang Tuhan beri. Kita menganggap semuanya itu biasanya saja, hal yang wajar, sehingga kita tidak bersyukur bila di pagi hari kita bisa bangun dengan tubuh yang sehat dan kuat. Padahal kalau saja kita tahu bahwa ada orang-orang di dunia ini yang ketika bangun pagi, badannya pegal-pegal, atau kakinya tidak bisa menginjak lantai, bengkak karena asam uratnya naik, atau saat bangun dari tempat tidur mungkin kepalanya langsung pusing. Kita yang bisa bangun dengan tubuh yang segar, malah tidak mensyukurinya. Atau ada jutaan orang di dunia ini yang masih susah payah mencari pekerjaan, kita yang diberi kemudahan dapat bekerja di lingkungan yang nyaman, mendapat atasan dan rekan kerja yang baik, justru sibuk mengeluhkan gaji yang tidak naik-naik. Albert Schweitzer mengingatkan, "Apa pun yang telah Anda terima lebih daripada yang lain- dalam kesehatan, dalam talenta, dalam kemampuan, dalam sukses, dalam masa kecil yang menyenangkan, dalam kondisi rumah tangga yang harmonis- semuanya itu janganlah Anda anggap sudah sewajarnya." Jadi, belajarlah untuk bersyukur dan stop mengeluh. Karena mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, itu hanya akan menguras energi kita dengan sia-sia, bahkan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Joyce Meyer dalam bukunya Prepare to Prosper mengatakan, "Sikap bersungut-sungut akan mencuri sukacita, kedamaian, dan kemajuan kita. Bersungut-sungut adalah tanda ketidakdewasaan." Banyak orang mendukakan hati Tuhan dengan mengeluh bukannya bersyukur, berencana dan bukannya berdoa, mengerutu daripada bersyukur, dan kuatir bukannya percaya kepada Dia yang setia. Bila kita sadar bahwa sikap mengeluh, bersungut-sunggut hanya akan memberi dampak buruk baik kesehatan jasmani dan rohani kita, mari hentikanlah kebiasaan negatif tersebut, dan gantilah dengan kebiasaan mengucap syukur. Ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, Anda mungkin berkata, "Saya sedang mengalami kesulitan ekonomi, tengah menderita penyakit kronis, dalam keadaan terjepit, dan Anda menyuruh saya untuk bersyukur? Apa yang bisa saya syukuri dengan kondisi hidup yang sedemikian buruk?" Kadang kita perlu melakukannya dengan iman. Jika kita mau mengucapkan hal yang kebalikan dari yang kita alami saat itu dengan iman, sukacita akan segera mengikutinya. Bersyukur mengirim suatu pesan kepada seluruh tubuh kita bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Saat kita berterima kasih pada Tuhan, wajah yang cemberut berubah menjadi senyuman, hari yang kacau menjadi tenang, dan pada saat yang bersamaan zat-zat kimia dilepaskan ke seluruh sistem jasmani kita yang membuat kita merasa lebih baik. Lebih dari itu, saat kita mencoba menyukuri setiap hal yang Tuhan anugerahkan, pasangan, anak-anak, pekerjaan, tempat tinggal, makanan yang selalu tersedia di meja makan, kita akan memperoleh kemurahan Tuhan yang lebih besar lagi. Itu akan menolong kita dalam hidup ini.

Jadi, kembangkanlah selalu kebiasaan untuk bersyukur. Daripada menghitung kesukaran kita, cobalah menjumlahkan berkat-berkat yang telah Anda terima. Berterima kasihlah untuk yang sedikit, maka kita akan mendapatkan yang banyak.