Hari 18 - Ambil Alih Hidup Anda

Bertanggung jawablah atas kelakuan, pengeluaran dan tindakanmu, jangan pernah menggunakan alasan bukan salahku. Inilah kualitas yang sangat dibutuhkan seseorang di abad ke-21 ini. (Barbara Tuchman)

Dua orang ibu memasuki toko pakaian. Ternyata pemilik toko sedang bad mood sehingga tidak melayani dengan baik. Ibu pertama jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Tapi ibu kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjualnya. Ibu pertama bertanya, "Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pada penjual menyebalkan itu?" Ia menjawab, "Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?" "Tapi ia melayani dengan buruk sekali," bantah ibu pertama."Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, toh tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan menentukan hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita," jelas ibu kedua.

Tanpa sadar seringkali kita telah membiarkan hidup ini dikendalikan oleh berbagai faktor luar, seperti sikap orang lain yang tidak menyenangkan terhadap kita, perkataan negatif orang sekitar, keadaan buruk, dan sebagainya. Ya, tindakan dan ucapan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan dan ucapan orang lain kepada kita. Kalau orang melakukan hal buruk kepada kita, bersikap tidak ramah, tidak peduli, mencurangi, menusuk dari belakang, biasanya kita akan berlaku buruk juga kepadanya. Atau kalau rekan kerja suka membicarakan kita, maka kita pun tidak mau kalah juga untuk membicarakannya di depan orang-orang. Bahkan jika bisa, kita akan melakukan hal yang lebih buruk lagi, dari yang mereka lakukan. Sebaliknya, kalau orang lain bertindak sopan, baik, suka menolong maka kita pun baru akan melakukan hal serupa terhadapnya. Bila kita ditanya mengapa kita berbuat seperti itu, biasanya kita akan memberi alasan, "Ya, itu bukan salah saya, dia dulu kok yang berbuat jahat. Jadi, kalau sekarang dia menerima perlakuan yang kurang baik dari saya, itu akibat dari kesalahannya sendiri." Padahal setiap kelakuan kita, tidak ada hubungannya dengan orang lain. Memang kita bisa saja membalas mereka, tapi jika kita memutuskan untuk tidak melakukannya, maka hal itu tidak akan terjadi. Bila direnungkan, mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik dulu oleh orang lain? Padahal, kebaikan harus dilakukan setiap waktu dan dalam semua keadaan, tidak hanya ketika kita cocok untuk melakukannya. Tidak bisakah kita tetap berbuat baik, berkata yang positif, meskipun orang disekeliling kita berlaku yang kebalikannya? Sebuah kata bijak mengatakan, "Perlakukan semua orang dengan sopan, bahkan mereka yang kasar kepada Anda. Camkanlah bahwa Anda menunjukkan sopan santun kepada orang lain bukan karena mereka orang-orang terhormat, tetapi karena Andalah yang bersikap demikian." Inilah karakter yang perlu kita kembangkan untuk menjadi seorang achiever sejati, yaitu bagaimana kita memperlakukan orang lain yang tidak bisa melakukan hal yang baik kepada kita sama sekali. Di saat yang lain tersinggung karena sebuah kritik, kita menyikapinya dengan berbeda, kita malah bersyukur dan berterima kasih kepada orang yang menyampaikan kritikan tersebut karena telah membuka mata kita untuk berubah dan memperbaiki kesalahan yang ada. Atau di saat kebanyakan orang membenci mereka yang berusaha menusuknya dari belakang, kita justru dimampukan Tuhan untuk mengampuninya, bahkan bisa tetap tersenyum ketika berhadapan dengannya. Mengapa? Karena kita tahu bahwa bila orang itu berusaha menusuk kita dari belakang, berarti kita berada di depannya, kita lebih unggul dari dia.

Memang selalu ada alasan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun bila mata harus ganti mata, gigi harus ganti gigi, maka kita akan menemukan di dunia ini hanya ada orang buta dan ompong. Dunia kita hanya akan ada kebencian yang tidak ada habis-habisnya, apakah itu indah? Karena itu, bila kita bertemu dengan orang-orang yang egois, yang sedang marah, frustasi, kecewa, bad mood, yang ingin sekali melampiaskan semua kekesalannya pada orang yang ditemuainya, entah di jalan, di toko, di kantor, atau di mana pun, jangan diambil hati, tersenyum saja, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil ‘sampah’ mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang kita temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Ingatlah hidup kita tidak ditentukan oleh sikap atau perkataan orang lain kepada kita, tapi hidup kita ditentukan oleh sikap dan perkataan kita sendiri.