Hari 14 - Memperbesar Kapasitas

Ketika aku berdiri di depan Tuhan pada akhir hidupku, aku berharap bahwa tidak ada satu talenta pun yang belum aku gunakan, dan bisa berkata, ‘Aku telah menggunakan segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku.’ (Erma Bombeck)

Apa yang terbersit dalam benak Anda ketika membaca judul di atas? Mungkin ada yang berpikir, "Kapasitas manusia itu tidak mungkin bisa diperbesar lagi karena Tuhan memang sudah memberi porsi masing-masing kepada kita." Atau mungkin ada lagi yang memberi tanggapan seperti ini, "Saya rindu memperbesar kapasitas atau kemampuan saya, tapi bagaimana caranya? Saya sudah mencoba berbagai cara tapi sepertinya tingkat kemampuan saya ya begini-begini saja." Sylvan N. Goldman dari Oklahoma City, Amerika Serikat, seorang pemiliki toko swalayan dulunya juga mengira bahwa omzet penjualan dari swalayannya akan begitu-begitu saja. Sampai suatu hari, dia mengamati bahwa keranjang yang disediakan toko kerap membuat pembeli hanya membeli sedikit barang. Setelah keranjang penuh, pembeli segera menuju kasir dan pulang. Tentu saja Goldman ingin agar pelanggannya membeli lebih banyak lagi. Untuk itu Goldman merancang dan menciptakan kereta belanja (troli) pertama di tahun 1937. Setelah menggunakan troli, terbukti omzet penjualannya meningkat pesat. Troli hasil penemuannya ini akhirnya ditiru oleh toko-toko swalayan di seluruh dunia. Lihatlah, ketika pelanggan berbelanja dengan menggunakan sebuah keranjang, maka barang yang dibeli hanya sedikit karena bila ingin membeli banyak pun malas karena harus menggunakan dua keranjang. Tapi setelah diganti dengan sebuah troli, maka orang-orang jadi senang membeli dan membeli lagi, mungkin baru akan berhenti bila trolinya sudah terisi penuh. Manusia pun sama, pada mulanya kita memang diberi kemampuan yang sedikit atau kecil oleh Tuhan. Bukan berarti itu adalah harga mati yang tidak bisa diubah lagi. Kemampuan atau keahlian bisa dilatih, diperbesar, dilpatgandakan. Seperti sebuah otot, pertama-tama mungkin kita hanya mampu mengangkat beban seberat 5 kg, tapi karena terus-menerus dilatih lama-lama kita jadi sanggup mengangkat beban lebih dari 5 kg. Contoh lain, misal saat ini Anda termasuk orang yang fasih dalam berbicara dan memotivasi, tapi masih dalam tingkat kecil, dalam lingkup keluarga misalnya. Bila Anda mau melatihnya, tidak mustahil suatu hari nanti Anda akan mampu berbicara di depan ratusan atau bahkan ribuan orang. Bila itu terjadi, itu tandanya Anda sudah berhasil memperbesar kapasitas Anda, dari berbicara di kalangan kecil menjadi besar.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memperbesar kapasitas. Pertama, jadilah pribadi yang terus belajar. Mengapa kita perlu belajar sepanjang masa? Dalam Successful Lifelong Learning, Robert Steinbach berkata, "Belajar itu sangat perlu karena saat ini perubahan berjalan cepat. Terus terjadi perkembangan, dan belajar membuat kita lebih smart. Membuat perusahaan ‘bergantung’ pada kita. Belajar memperkaya dan meningkatkan kualitas hidup. Membuat hidup lebih memberi rasa aman karena kita tidak ketinggalan zaman. Kita mampu mempelajari hal-hal baru dan jadi lebih profesional." Kita bisa belajar dari buku-buku, kaset, CD, berdiskusi dan bertukar pikiran dengan rekan senior, mengikuti kursus dan pelatihan, mendengarkan radio, melihat langsung dari gaya kepemimpinan atasan kita, dsb. Apapun jabatan kita saat ini, atau berapa pun usia kita, jangan berkata, "Posisi saya sudah tinggi, tidak perlulah belajar lagi, lagipula saya sudah cukup mahir dalam mengelola usaha. Saya sudah tua, apa gunakanya menuntut ilmu lagi? Belajar itu hanya diperuntukan bagi kaum muda saja." Itu tidak benar. Belajar adalah proses seumur hidup bagi siapapun entah kita sudah berumur, sudah berada di posisi puncak, sudah kaya, sudah mahir. Ketahuilah bahwa dunia ini selalu menyimpan hal yang baru, bila kita mau membuka diri, mau rendah hati mempelajarinya, maka sesuatu yang belum kita lihat, dengar, pahami, akan kita dapatkan.

Kedua, cobalah bidang lain di luar spesialisasi Anda. Aristoteles mengatakan, "Setiap barang pasti memiliki lebih dari satu kegunaan." Demikian juga kita, saya percaya Tuhan pun menciptakan kita dengan beberapa kelebihan. Bukankah saat ini banyak penulis yang juga ahli dalam memotivasi orang lain? Atau tidak sedikit juga selebritis yang mempunyai kemampuan berbisnis sehingga mereka tidak ragu membuka restoran, butik, salon, dsb. Karena itu, mengapa kita tidak berusaha menemukan dan mengembangkan keahlian kita yang lainnya?

Ketiga, memiliki sikap berani mencoba. Niko Siahaan, dulu kita kenal sebagai seorang presenter beberapa acara kuis di televisi. Namun kini ia muncul sebagai seorang pengusaha restoran makanan sunda yang sukses. Hal itu ia alami karena ia berani mencoba seauatu yang benar-benar baru dalam dunianya. Ia tidak berkata, "Mana mungkin saya bisa, kemampuan saya kan di bidang komunikasi, saya tidak memiliki pengalaman tentang restoran, makanan, minuman, memanage pegawai." Namun ia melakukannya, dan ternyata berhasil. Kalau Niko tidak mencoba, sampai kapan pun ia tidak akan tahu bahwa ia bisa melakukannya. Ya, ia tidak akan mengetahui bahwa ternyata ia ahli juga dalam memasak, mengatur anak buah, membuat strategi agar restorannya dikunjungi banyak orang.