Hari 13 - Menemukan Alasannya

Jika Anda tidak puas dengan pola kehidupan Anda sekarang, itu dikarenakan Anda belum menulis tujuan dengan jelas di otak Anda. (Paul Meyer)

Herman Pore, seorang pria berusia 62 tahun nekat ikut audisi American Idol, padahal usianya melebihi syarat. "Apa yang membuat Anda ikut audisi ini?" tanya Simon Cowel, sang juri. "Saya sudah menikah lebih dari 20 tahun. Dan istri saya saat ini menderita kanker ganas. Belakangan ia mendorong saya ikut. Agar boleh tampil, kami mengumpulkan tanda tangan dukungan sebanyak-banyaknya. Ketika mencari dukungan, istri saya bersemangat melakukannya. Gairah hidupnya muncul kembali. Karena itu, saya memutuskan untuk terus maju. Apapun saya lakukan asal dapat membuat istri saya senang dan bersemangat kembali," jawab pria paruh baya ini.

Istri Herman Pore, telah menjadi alasan bagi Herman Pore untuk melakukan sesuatu (ikut audisi) dengan semangat menyala. Dalam mengejar pencapaian-pencapaian kita entah dalam karir, bisnis, keluarga, pelayanan, studi, kita pun membutuhkan sebuah alasan yang kuat mengapa kita mau melakukan semua itu sampai akhir. Ya, kita perlu menemukan sesuatu yang cukup kuat (alasan) untuk bisa mengambil risiko, melompati rintangan dan meruntuhkan tembok yang selalu akan ditempatkan di depan kita. Jika kita tidak mempunyai itu, untuk apa yang sedang kita lakukan, maka kita akan berhenti pada rintangan besar pertama yang kita temui. Sebaliknya bila kita memilikinya, maka kita memiliki api penyemangat atau energi lebih yang membuat kita terus maju dan maju sampai di garis finish, tidak peduli bila harus menghadapi tantangan seberat apapun. Herman Pore memiliki hal itu, demikian juga dengan ibu Enrico Caruso dan Chris Gardner. Sejak kecil Enrico Caruso bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Saat berusia sepuluh tahun, dia mengambil les nyanyi pertamanya. Sayang guru lesnya tidak mereponi dengan baik bakatnya itu, dan malah berkata, "Kamu tidak bisa menyanyi. Kamu bahkan tidak memiliki suara yang bagus. Suaramu seperti suara angin dalam orgen." Namun ibunya memiliki alasan yang besar agar anaknya menjadi seorang penyanyi terkenal. Itulah yang membuatnya rela mengorbankan apa saja untuk membayar les nyanyi sang anak. Terbukti setelah dewasa, Enrico Caruso menjadi salah satu penyanyi besar dunia. Cerita serupa dibawa oleh Chris Gardner. Dulu ia adalah pria miskin, tapi mempunyai alasan yang kuat untuk sukses. Dari seorang pria yang hidup tanpa penghasilan apa-apa, berdesak-desakan hanya untuk mendapat tempat tidur di penampungan, sekarang ia menjelma menjadi seorang pialang saham yang berhasil dan kaya.

Bagaimana dengan kita? Dalam memasuki tahun 2012 ini, sudahkah kita mempunyai alasan mengapa kita harus bekerja lebih giat? Sudahkah kita memiliki alasan yang besar, mengapa kita perlu mencapai hal-hal yang lebih super dari tahun-tahun sebelumnya? Mengapa kita harus berjuang all out demi meraih kebahagiaan kita? Temukanlah alasan itu! Mungkin alasan itu adalah Anda ingin sukses karena ingin sekali membuat bahagia pasangan dan anak-anak. Anda harus bertempur habis-habisan agar mimpi Anda menjadi kenyataan. Kita harus berkarya lebih giat dari tahun lalu untuk memiliki sebuah rumah dan mobil baru, dsb. Tidak peduli apapun alasan yang kita buat, yang penting alasan itu harus benar-benar kuat dan ‘mendarah daging’ dalam diri kita. Jika alasan kita ingin mengejar kesuksesan hanya karena dipaksa oleh pasangan, maka awalnya mungkin kita akan bekerja keras dan rajin, namun karena alasan itu timbul dari orang lain, bukan dari dorongan diri sendiri, maka hal itu tidak akan bertahan lama. Biasanya kita hanya bersemangat dalam hitungan hari atau minggu saja. Setelah itu, kembali lagi ke keadaan semula, malas, tidak antusias, kurang bergairah. Hal yang sama pun akan terjadi bila alasan kita untuk maju, untuk mencapai angka penjualan yang lebih dari yang sudah-sudah datang hanya dari atasan kita, bukan lahir dari hati kita yang paling dalam. Mulanya kita pasti serius dalam menawarkan barang-barang, namun ketika mengalami penolakan dan kegagalan beberapa kali saja, kita langsung berkata, "Memang sudah nasib saja tidak bisa menjadi sales yang unggul. Memang saya tidak berbakat dalam bidang ini. Saya sudah gagal, lebih baik saya berhenti saja."

Lihatlah itulah yang akan terjadi bila alasan yang kita punya dangkal, tidak tumbuh dari diri sendiri. Karena itu, mari bukan hanya sekedar memiliki alasan dalam hidup ini. Tapi alasan yang kuat, besar, membara, menyala-nyala, agar apa yang kita cita-citakan dapat berhasil. Jika kita memiliki alasan yang berkobar-kobar, percayalah tidak akan ada seorang pun yang mampu menghentikan kita untuk mencapai sesuatu.